Minggu, 19 April 2009

Journey to Merbabu (2)





Minggu, 12 April 2009 (hari ke-2 pendakian)

Kami tertidur dengan pulas guna memperoleh tenaga kembali. Aku terbangun sekitar jam 4.30. Aku mencoba membangunkan teman-teman yang lain untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju ke puncak. Namun tak ada yang menggubris, sial banget aku. Maka aku kembali melanjutkan lelapku. 1 jam kemudian Wowon bangun untuk sembahyang, aku juga bangun karena merasa perutku ada sedikit masalah. "Mencoba merasakan 'peper' digunung ah" batinku. dan ku lakukanlah, dengan persediaan air 1,5 liter, tisu yg cukup banyak. Jam menunjukkan jam 6 kurang 15 menitan. Kami memutuskan untuk melanjutkan ke puncak. Sekitar 15 menit kami bongkar tenda, dan packing. Akhirnya sekitar jam 6 kami sudah siap dan mempersiapkan perjalanan kami. Kami awali perjalanan itu dengan doa kami masing-masing. Perjalanan kami mulai dengan track yang sedikit landai. Dan ketika menuju jembatan setan kami dihadapkan oleh track yang mulai curam. perlahan namun pasti Aku melangkah di belakang sendiri. Tak tau apa yang terjadi pada teman-teman. Mereka ada jauh di depanku. Tidak lama aku mendengar suara Jemblinx memanggil namaku. oh, ternyata mereka break di atasku. Segera aku menyusul mereka dan break. Kami kembali berjalan, pertigaan lebih dekat. Namun track yang kami lalui semakin terjal saja. Sangat melelahkan bagi kami, tapi kami berprinsip puncak semakin dekat. Kami terus berjalan hingga singkat cerita kami sampai di pertigaan. kami lebih memilih puncak kenteng 9 dan triangulasi dan meninggalkan puncak syarif. Kami berbelok ke arah kanan. berjalan penuh semangat, setelah melewati sebuat bukit. di depan kami ada rombongan lain. setelah kami berhasil mensejajarkan diri dengan mereka, ternyata mereka dari UNES. Ada beberapa wanita di dalam regu mereka. Kami sampai di puncak bersama dengan rombongan tersebut. Bahkan kami sempat berfoto bersama dengan mereka. Luar biasa perjalanan yang kami tempuh. "Aku beruntung bisa merasakan hal seperti ini" batinku. Setibanya kami di kentheng 9 kami berfoto-foto ria. Dan tak ingin ketinggalan, kami juga berjalan menuju puncak paling tinggi yaitu triangulasi (tidak jauh dari kentheng 9). Kami kembali berfoto-foto ria. Bagi Jemblinx, Wowon, Ilham ini adalah kali pertama mereka mendaki, dan langsung sampai di puncak. mencapai puncak ini kami harus climbing, harus merangkak perlahan dan sangat extrim. Jam menunjukkan pukul 9 pagi, kami harus pulang menuju ke rumah kami masing-masing. Kami mulai berjalan menuruni gunung merbabu, tidak lupa aku membawa batu dari puncak tersebut. Mulai kami menuruni dengan hati-hati. Persediaan air kami tinggal 2 botol, maka kami harus hemat. Menuruni gunung lebih sulit dari pada mendakinya. Ini terbukti ketika salah satu dari kami yang takut akan ketinggian. kami harus pelan-pelan. Akhirnya kami sampai di pertigaan, "syarif sisan yo pli?" Jemblinx menawarkan padaku. "wah kawanen (kesiangan) bos, next time ajah" jawabku. Karena memang hari semakin siang, serta perbekalan kami sudah tipis. Kami kembali berjalan turun, Wowon meminta untuk break. Kami break di puncak 4, dan dari situ kami tersusul dari rombongan UNES. Tak mau kalah, kami berjalan beriringan dengan mereka. Tidak terasa kami sampai di tower, namun sebelumnya kami berpisah dengan dengan rombongan UNES di pertigaan bawah. Jalur kami berbeda dengan yang ditempuh oleh rombongan UNES. Mereka memakai jalur selatan. Kembali ke kubu kami, kami break di tower cukup lama saat itu. Melihat Wowon yang terlalu lelah. Setelah merasa cukup Aku mulai berjalan turun. Diikuti Jemblinx, Ilham,Wowon. Sampailah Aku di watu gubuk, tak lama Jemblinx datang sambil bilang Dia sempat terjatuh. Selang beberapa menit Ilham dan Wowon datang dengan wajah yang lemes. Diputuskan saat itu kami untuk membuat makanan, karena memang kami belum makan dari pagi tadi. Aku buka kompor bawaanku berserta gasnya. Kami buat mie instan serta membuat kopi panas. Selesai makan kami bersiap untuk lanjut, tapi sebelumnya kami mendokumentasikan diri di watu gubuk. Kami selesai dan akan lanjut, sial bagiku! sepatuku jebol, terpaksa aku turun dengan dengan kaki tanpa alas. Kami jalan, Pos demi pos kami singgahi untuk break. Akhirnya kami sampai di Pending, kami melepas rasa gerah kami. dengan mencuci muka kami, dan juga melepas dahaga kami. Cuaca sedikit tidak bersahabat, suasana mendung menghiasi langit diatas kami. Aku kembali repacking dengan format supaya isi carier ku tidak basah. Kembali sial bagiku, Hujan tidak jadi turun menjatuhi kami. Tidak lama kemudian kami tiba di base camp. Rasanya sungguh melelahkan, namun kami rindu dengan suasana di puncak. Suasana masih berkabut, teman-teman ada di dalam rumah dan aku diluar. Dingin sekali hawanya disana saat itu. Waktu menunjukkan jam 3 sore, kami segera melaporkan diri ke pos pendataan dan kemudian pergi meninggalkan tekelan untuk pulang menuju salatiga. Sebelumnya kami berjalan dahulu untuk sampai di jalan raya untuk mendapatkan bus. 1 jam lebih kami berjalan menuju jalan raya kopeng-salatiga. Dan sekitar jam 4 lebij kami baru dapat menumpangi seonggok bus dengan membayar 4000 rupiah tiap orang. Sampailah kami di pasar sapi. Kini dari Pasar sapi hanya Aku dan Daniel saja. Kami mampir dulu di Wijek untuk membeli minuman. Jam 6 sore kurang 15 menit kembali jalan pulang menuju jalan diponegoro 55. Yang adalah tempat tinggalku. Sampailah aku, dan Daniel pulang ke rumahnya sendiri. Dengan demikian selesai lah cerita petualangan ku. Pengalaman ini adalah pengalaman yang paling gila yang pernah ku alami. Lain waktu aku akan kembali membuat cerita petualang yang baru.


Untuk teman-teman lain yang dulu akan ikut namun tidak jadi, "sayang sekali kalian tidak dapat bergabung bersama dengan kami"

kami yang menjalani:
Kristian Q-PLie N'CruSZ13
Daniel "Jemblinx"
Artwin "Wowon"
Ilham "Bothak"


1 komentar:

andrew mengatakan...

lanjutkan!! :)